Uuuppss

Kamis, 22 Agustus 2013

PRinsip Kerja Mixer



PRINSIP KERJA MIXER KUE

Spesifikasi :

1. Motor PK, 300 watt
2. Ukuran Wadah/mangkok 25cm x 25cm
3. Ukuran Mesin T 40cm, L 33cm, P 53cm
4. Kapasitas 3kg ADONAN
5. Bahan Stainless Steel

Kelebihan :

1. Motor kwalitas prima sehingga mesin awet, hemat listrik. 
2. Mudah dibersihkan, bahan stainless steel
3. Proses Pengadukan sangat cepat dan rata

a. Spiral           : mengaduk adonan tepung dan jenis bahan makanan yang sangat kental
b. Beater          : mengaduk keju, adonan pastry dan croissant, aneka tepung, mentega
c. Whip                        : mengaduk bahan makanan encer, seperti : cream, telur, susu segar

Cara Kerja :
Mesin Mixer pada dasarnya dibedakan atas 2 macam, yaitu spiral mixer dan planetary mixer. Spiral mixer digunakan untuk mengaduk berbagai macam adonan roti (roti manis dan tawar). Ciri-ciri spiral mixer, bowl tidak dapat dilepas, tetapi dapat berputar beriringan dengan hook. Kelebihan teknologi spiral mixer adalah adonan tidak cepat panas dan adonan cepat kalis. Kapasitas spiral mixer 5kg, 12kg, 25kg, 50kg, 75kg dsb. Dengan dibekali 2 speed kecepatan, spiral mixer sangat ideal untuk mengaduk segala adonan kue. Sedangkan planetary mixer adalah mixer yang multiguna untuk dipakai berbagai macam adonan. Bisa dipakai untuk mengaduk berbagai jenis cake dan butter untuk filling roti.
Bowl planetary mixer tidak dapat berputar tetapi dapat dilepas untuk dicuci. Kapasitas aduk planetary mixer mulai dari 1 kg, 3 kg, 5 kg, 8 kg dan 12 kg. Dengan dibekali 3 speed kecepatan aduk planetary mixer dapat digunakan untuk segala macam adonan. Ada lagi jenis cake mixer dan cooking mixer. Cake mixer hanya dipakai untuk mengaduk segala jenis cake saja. Jadi peminat cake mixer ini sangat terbatas sekali. Untuk cooking mixer dipakai untuk membuat selai, dodol, jenang, kacang hijau dsb. Biasanya dipakai untuk variasi isian roti. Cooking mixer dilengkapi dengan kompor yang dipakai untuk memanaskan adonan, sehingga adonannya diaduk sekaligus dimasak di cooking mixer tersebut.
Komutator        : Memastikan arah arus listrik agar bisa tetap sama
Stator               : Rakitan bilah yang tidak bergerak dalam turbin
Rotor                : Mendistribusikan listrik tegangan tinggi koil ke setiap busi pada masing-masing silinder mesin melalui kabel busi
Boastel           : Untuk penyaringan air dan udara


 MIXER SIGNAL FLOW

Mixer adalah alat yang berfungsi untuk menyalurkan sekaligus mengontrol signal dari dan ke Multi Track Recorder. Jika Recorder dimisalkan sebagai Jantung, maka Mixer adalah Sistem Arteri Pembuluh Darah.

Sangat penting untuk mengetahui sistem signal routing dalam sebuah mixer, sama seperti kita mengetahui kemana saja keran air yang ada dirumah kita mengucur setelah mendapat distribusi dari PAM.

Jangan sampai ada keran air yang tidak diketahui keberadaan-nya, sehingga air harus jauh jauh disalurkan padahal ternyata ada sumber yang lebih dekat.
Otomatis air yang disalurkan dari jauh itu akan berkurang derasnya, dibanding kalau disalurkan dari keran yang lebih dekat.
Untuk mengontrol derasnya air tersebut pada dunia Audio dipakai apa yang disebut PreAmp ataupun Potensio.

Jenis Desain Mixer :

Desain dari Mixer ada beberapa jenis dan bervariasi tergantung mereknya.
Tapi umumnya ada yang dikenal dengan Desain Split serta In-Line.
Pada Mixer Pro yang mahal umumnya memakai sistem In-Line dan pada Mixer Semi Pro memakai sistem Split.

Ada juga yang menggabungkan kedua tipe didalam satu rancangan misalnya Mixer buatan Mackie yang mereka sebut dengan jenis "Spline" (Split and In-Line).
Mixer In-Line cenderung lebih rumit rancangannya dan jenis Split lebih gampang dimengerti konsep signal flow-nya. Mixer Mackie lebih rumit lagi karena lebih fleksibel dalam fasilitas signal routing-nya.

Umumnya Mixer hanya terdiri dari 3 bagian yaitu : Input Modules atau Input Strips yang biasanya terletak di bagian kiri dan berjumlah bisa 8, 16, 24 atau 32 tergantung jenisnya untuk Live Sound ataukah untuk Rekaman.

Kemudian ditengah Mixer selalu terdapat Master Module yang berurusan dengan segala hal yang menyangkut Master dan disebelah kanan terdapat Group Module atau Group Busses.
Ini didalam dunia rekaman disebut dengan nama Tape Sends, yang umumnya terdiri dari Fader berwarna merah yang jumlahnya bisa 8, 12, 16, atau 24.

Tergantung desain Mixer itu sendiri, prinsipnya lebih banyak Bus lebih menguntungkan.
Mixer Mackie terkenal dengan hanya 8 Bus dan ULU-10 Studio - Bali, memakai SoundCraft TS 12 bus.

Masih adalagi TS24 dengan 24 bus, lebih banyak Bus otomatis lebih mahal tetapi lebih praktis jika bekerja dengan banyak input yang langsung menuju ke Multi Track Tape Recorder.
Untuk jenis Split, diatas fader Tape Sends atau Group Busses itu terdapat lagi fader fader kecil yang berfungsi untuk memonitor keluaran dari Pita atau disebut Tape Returns atau Track Monitors.

Tapi bagi Mixer In-Line, track monitornya dikembalikan lagi ke Input Channel Strips yang berada di sebelah kiri tadi, biasanya dalam bentuk rotary pot diatas dari nomor track yang ada di Tape Recorder.
Misalnya dalam Mixer In-Line jika anda ingin monitor track yang anda rekam ke track 7 misalnya tapi memakai Channel input 2 maka anda harus monitor di Tape Returns (Rotary Pot) dari Channel 7.

Hal seperti ini banyak membingungkan Engineer yang tidak biasa memakai Mixer In-Line karena sudah terbiasa dengan kesederhanaan Mixer Split.
Pada Mixer Split, tergantung keadaan Mode dari Mixer apakah sedang Input atau Mix.
Dalam posisi dubbing, umumnya input dikiri dan monitor Track dikanan atas (Fader kecil diatas Fader merah Group).

Intinya harus disadari perbedaan antara Input dengan Track Return, umumnya dalam rekaman kita sebaiknya selalu monitor lewat Track Return agar jika ada distorsi atau problem di Pita dapat segera di ketahui.
Jika kita hanya monitor lewat Input maka problem rekaman di Pita akan lolos tak terdeteksi.

Masih banyak lagi desain signal flow dari berbagai macam Mixer yang hanya bisa diketahui jika anda mencobanya sendiri.
SoundCraft TS12 juga agak berbeda dengan Model lainnya karena input serta Track Return-nya dapat dirubah apakah memakai Fader atau Rotary Pot diatas Fader, tergantung dari setting-an yang kita perlukan.

Signal Routing :

Pertama tama Signal masuk ke dalam Mixer melewati Input Gain PreAmp, untuk Mixer Pro umumnya terdiri dari Balanced Low Impedance XLR inputs yang jumlahnya kadang kelipatan dari 8 atau 6, 16 atau 24 dan 32.
Pada Mixer Semi Pro atau DAW maka akan terdapat dua macam input : XLR dan TRS alias Mic dan Line In. Untuk saat ini DAW terbanyak hanya memiliki input sebanyak 8 XLR dan 8 TRS, kalau Digital Mixer memiliki jumlah input yang sama dengan jenis analog.

Selanjutnya Signal dari PreAmp itu melewati On-board EQ (Equalizer) yang bisa di by pass dengan tombol on-off, kemudian masuk lagi ke Aux Sends yang berjumlah kadang 4, 6 atau 8 buah.
Aux sends ini dapat diganti urutan tempatnya, apakah sebelum melewati komponen selanjutnya yang disebut Fader atau setelahnya. Ini yang disebut dengan Pre atau Post Fader Send.
Kalau Pre berarti kiriman itu tidak terpengaruh oleh posisi fader dan kalau Post berarti kiriman terpengaruh oleh besar kecilnya posisi Fader.

Setelah Channel fader maka signal masuk kedalam suatu Stereo Routing Bus dengan Rotary Pot yang disebut Pan Pot. Pan Pot ini yang menentukan signal dikirim kekanan atau kekiri dari Routing Matrix.
Routing Matrix terdiri dari banyak tombol kecil yang bernomor 1 sampai 24 bagi Mixer dengan 24 bus atau 1 sampai 8 bagi Mixer 8 bus.
TS12 mempunyai Routing Matrix bernomor 1 sampai 12. Routing Matrix ini dirancang berpasangan, ganjil dikiri dan genap dikanan.

Jika anda hendak mengirim ke Track 3 maka Pan Pot diputar kekiri dan tombol nomor 3 ditekan. Tapi bagaimana dengan Mackie yang hanya punya 8 bus, bagaimana caranya memasukkan ke Track nomor 9 ?
Atau bagaimana dengan TS12 jika hendak masuk ke Track nomor 13 dan selanjutnya ? Routing Matrix ini dicabang tiga untuk Mackie dan cabang dua untuk TS12.
Jadi untuk track 9 atau 17 sama halnya dengan tombol nomor 1 di Mackie, untuk TS12 track 13 sama halnya dengan tombol nomor 1.

Rancangan ini ada komprominya, bagaimana jika kita ingin merekam gitar di track 1 dan Bass di track 13 pada Mixer SoundCraft TS12. Untuk kasus ini kita terpaksa harus memakai sistem Patching di Patch Bay. Patch Bay itu adalah sekelompok input output yang berjejer jejer disebelah paling kanan dari sebuah Mixer. Bagi Mixer dengan 24 bus maka kasus ini tidak akan terjadi.

Setelah signal melewati Routing Matrix ini maka sesuai nomor assign-nya maka signal itu akan keluar di sebelah kanan dari Mixer yaitu pada Group Busses, untuk TS 12 terdapat 12 Fader merah disebelah kanan.
Jadi kalau anda mengirim ke bus nomor 18 maka anda sudah akan segera tahu Fader ke 6 yang akan mengontrol signal itu.

Jika Tape Recorder sudah dalam keadaan Track 18 Input Ready, maka akan segera terlihat jarum VU meter pada track 18 bergerak sesuai signal yang ada pada input channels Mixer yang misalnya berasal dari Ampli Gitar didalam ruangan Studio.
Misalnya signal Ampli Gitar ini masuk lewat input channel 2 dari Mixer dan dikirim ke Track 18 maka seharusnya anda monitor suaranya lewat Tape Return dari Track 18.
Hindari monitor dari channel input 2 dengan alasan yang sudah disebut sebelumnya diatas.

Patch Bay :

Setiap point dari signal route yang disebutkan diatas, terdapat apa yang disebut "Insert Point".
Ini berfungsi memutuskan signal pada point tersebut untuk dikeluarkan dari channel menuju ketempat lainnya, bisa keluar dari Mixer misalnya ke Kompresor atau kembali kedalam Mixer untuk masuk ke Channel lainnya (dicabang dua).
Setiap feature dari Mixer mempunyai Insertion Point pada Patch Bay.

Dalam melakukan Patching, harus di-ingat persamaan seperti menyalurkan air dari jauh tanpa mengetahui kalau ternyata ada keran yang lebih dekat posisinya.
Melakukan Patching harus efektif dalam memilih posisi insertion point yang paling tepat alias jalur signal yang paling singkat.

Pada Digital, Patching juga dilakukan persis seperti pada Analog tetapi hanya secara Virtual didalam Software.Tetapi pengertian mengenai Patching Analog sangat dibutuhkan agar seseorang paham betul dengan maksud dan tujuan dalam proses Patching.




0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar